Tips Nikah

Jika Suami dan Istri Sama-sama Bekerja, Bagaimana Ya?

Anggapan di sebagian budaya tertentu membagi dengan jelas dan kaku peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Laki-laki harus bekerja mencari nafkah dan perempuan di rumah mengurus rumah plus mengasuh anak. Namun seiring perkembangan zaman, pembagian peran semacam itu tak lagi berlaku sepenuhnya.

Kehidupan modern, perempuan yang makin berdaya dengan pendidikan tinggi, serta tuntutan ekonomi mendorong suami istri meninggalkan sekat-sekat peran. Seorang istri pun berhak untuk berkontribusi lebih luas di masyarakat dengan bekerja. Seperti dilansir ummi-online.com, alasan para perempuan bekerja biasanya adalah:

  1. Ingin mengaplikasikan ilmu yang dipelajari selama di kampus.
  2. Tidak ingin diremehkan oleh orang tua, teman, mertua, ataupun suami.
  3. Merasa tidak aman bila tidak bekerja dan menghasilkan uang.
  4. Alasan finansial.
  5. Refreshing
  6. Ingin memberikan kontribusi.

Ada banyak dampak positif bila seorang istri memilih untuk bekerja. Istri memiliki kesempatan untuk aktualisasi dan pengembangan diri sehingga lebih merasa berarti. Pencapaian-pencapaian itulah yang akan membuat perempuan bersemangat menjalani hidup dan merasa berarti. Dengan bekerja, perempuan juga mampu memperluas pergaulan dan jaringan yang akan bermanfaat untuk pengembangan dirinya. Kesehariannya akan lebih dinamis dan sekaligus menjauhkannya dari stres karena tidak bekerja.

Akan tetapi, di balik dampak-dampak positif tersebut, ada beberapa hal lain yang patut diwaspadai. Mungkin sebagian besar pasangan suami istri pun menimbang-nimbang, akankah rumah tangga tetap berjalan harmonis bila masing-masing sama-sama bekerja?

Untuk mengantisipasi hal-hal yang memunculkan kecemasan, ada baiknya pasangan suami istri pekerja memahami kemungkinan-kemungkinan berikut, disarikan dari keluarga.com:

 

Pola rumah tangga masih tradisional

Sering kali pola yang diterapkan dalam rumah tangga masih tradisional meski suami istri sama-sama bekerja. Suami masih berharap dilayani istri sepenuhnya dan urusan rumah beres di tangan istri, sebagaimana bila memiliki istri yang memilih mengurus rumah tangga. Padahal kenyataannya, istri yang bekerja juga kadang harus lembur, dinas ke luar kota, dan merasa sangat kelelahan. Hal ini yang kemudian menyulut cekcok.

Kurang komunikasi

Kurang komunikasi adalah biang utama permasalahan rumah tangga. Biasanya, masalah komunikasi terjadi karena keberadaan gawai. Setelah seharian bekerja di luar rumah, setiba di rumah suami dan istri masih saja berkutat dengan ponsel atau laptop. Alih-alih meluangkan waktu untuk mengobrol dari hati ke hati, terjadilah kesalahpahaman karena komunikasi tidak efektif. Konflik pun mudah terjadi.

Urusan anak

Ketika suami istri sibuk bekerja, urusan anak akan selalu menjadi perdebatan. Terutama soal siapa yang akan mengasuh anak, baik itu pembantu atau kakek-nenek. Konflik terjadi karena perbedaan pola asuh beda generasi. Yang biasa terjadi, kakek-nenek cenderung memanjakan cucunya. Pasangan sering kali saling menyalahkan karena hal ini.

Hubungan seks

Hubungan seks sebagai aktivitas pemelihara romansa juga paling rentan terkorbankan ketika suami istri sibuk bekerja. Padatnya pekerjaan dan jalanan macet tentunya sangat melelahkan hingga gairah untuk bercinta pun menurun. Sedangkan waktu akhir pekan akan banyak disibukkan dengan urusan anak-anak.

Tak ada yang salah dengan keputusan suami istri untuk sama-sama bekerja. Yang terpenting masing-masing memahami kemungkinan gesekan yang akan timbul karena keputusan tersebut.

Share this :
Previous post

Cara Orang Jepang Mendidik Anak Agar Disiplin, Tertarik?

Next post

Bisakah Membuat Pesta Pernikahan yang Surplus?

Komentar Anda